Wednesday, April 29, 2015

Liga Indonesia - keputusasaan Arema Mulai Sirna


Liga Indonesia - Arema Cronus sementara harus melupakan misi menambah koleksi trofi musim ini. Asa menggapai gelar juara yang dipersiapkan sejak jauh hari, sekarang nyaris sirna karena situasi sepakbola yang belum menentu walau telah digelar pertemuan antara Menpora dengan klub.

Belum adanya solusi dalam pertemuan tersebut membuat lanjutan QNB League kembali kabur. Sedangkan di sisi lain Arema juga harus mempercepat proses rekonsiliasi demi kelanjutan eksistensi di kompetisi level tertinggi Indonesia.


Konsentrasi yang terpecah-pecah seperti itu membuat perjalanan Singo Edan musim 2015 sangat berliku. Pelatih Suharno bahkan sulit menyebut apakah timnya masih layak dan bergairah mengejar trofi QNB League yang dipersiapkan sejak berbulan-bulan lalu.

"Saya sulit memastikan apakah tim ini masih sama seperti musim ini. Ujian mental bertubi-tubi datang dan bahkan bukan karena pertandingan, tapi hal di luar lapangan. Saya sendiri akhirnya tidak yakin situasinya sama seperti pra musim lalu," keluh Suharno.

Selain harus merasakan tiga kali penundaan kompetisi, Arema juga sempat dikhawatirkan eksistensi klub. Untuk masalah eksistensi tampaknya sudah agak lega setelah Menpora mengundang Arema dan memastikan harus tetap mengkuti kompetisi.

"Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah pemain masih memiliki fokus yang sama ketika kompetisi dilanjutkan nanti. Saya khawatirnya mereka sudah tak bergairah seperti sebelumnya dan itu memang konsekuensi yang kami hadapi," terang pelatih kelahiran 1959.

Nasib yang dialami Arema memang sangat mengejutkan. Berkibar di masa pra musim dengan menyabet empat trofi turnamen, Singo Edan terpuruk karena legalitas yang tak memenuhi syarat dan menjadi salah satu pemicu kekacauan di kompetisi negeri ini.

Sudah begitu, kompetisi belum juga dilanjutkan dan tidak ada kepastian bakal bergulir kembali. "Semua yang kami persiapkan dengan baik sejak jauh hari, kini menjadi rusak. Pemain harus memulai dari nol lagi kalau kompetisi dilanjutkan," tandas Suharno.

Sementara, hingga kini persoalan legalitas masih menjadi duri walau manajemen berkoar bakal cepat menyelesaikan. Proses rekonsiliasi yang diawali pada 3 April 2015 belum juga menemui kata sepakat kendati manajemen sempat yakin bakal selesai selama 10 hari.

"Soal legalitas masih terus kami lakukan dan proses finalisasi. Memang belum ada hitam di atas putih, namun perkembangannya sangat bagus. Menpora sendiri juga bersedia memfasilitasi, sehingga harapannya bisa lebih cepat tuntas," jelas Iwan Budianto, CEO Arema.

Manajemen sebelumnya sudah bertemu dengan tokoh-tokoh Yayasan Arema, seperti M Nur, Rendra Kresna, Gunadi Handoko, Andi Darussalam Tabusala dan tokoh-tokoh lainnya. Namun ternyata rekonsiliasi tidak semudah yang diwacanakan sebelumnya.

Sekarang ada kubu Winarso yang mengklaim dirinya direktur utama dan pengelola sah Arema Indonesia. Winarso adalah sosok yang terakhir mengandalikan Arema IPL sebelum kompetisi Indonesia Premier League dibubarkan karena penyatuan liga.

"Saya masih menjadi pengelola Arema Indonesia dan menunggu apa yang akan ditawarkan manajemen Arema Cronus. Saya pengelola yang sah, jadi Arema Cronus harus datang. Saya masih menunggu apa kemauan mereka," kata Winarso yang juga sempat mengitim surat ke Menpora awal April lalu.

No comments:

Post a Comment